Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan
bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sekolah
Dasar merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan pada jalur
pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Sekolah
Dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut (Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006).
Implikasi diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 32 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan ialah perubahan model pendekatan pembelajaran yang dilakukan
di Sekolah Dasar. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan
pembelajaran tematik terpadu atau yang seringkali disebut sebagai
tematik integratif. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai
mata pelajaran dalam berbagai tema. Pendekatan pembelajaran ini
digunakan untuk seluruh kelas pada sekolah dasar. Pembelajaran dengan
pendekatan tematik ini mencakup seluruh kompetensi mata pelajaran yaitu:
PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya dan Prakarya kecuali mata pelajaran
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Kompetensi mata pelajaran IPA pada
kelas I – III diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan
Matematika, sedangkan untuk mata pelajaran IPS diintegrasikan ke mata
pelajaran Bahasa Indonesia, PPKN dan Matematika. Kompetensi dasar IPA
dan IPS di kelas IV-VI masing-masing berdiri sendiri.
Pendekatan ini dimaksudkan agar peserta didik tidak belajar secara
parsial sehingga pembelajaran dapat memberikan makna yang utuh pada
peserta didik seperti yang tercermin pada berbagai tema yang tersedia.
Tematik terpadu disusun berdasarkan berbagai proses integrasi yaitu
integrasi intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan
trans-disipliner.
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu
yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga
dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran
terpadu didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan berbagai
gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata
pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran.Pembelajaran tematik memberi
penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan
materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang
memadukan berbagai informasi.
Pembelajaran tematik berdasar pada filsafat konstruktivisme yang
berpandangan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik merupakan
hasil bentukan peserta didik sendiri. Peserta didik membentuk
pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan, bukan hasil bentukan
orang lain. Proses pembentukan pengetahuan tersebut berlangsung secara
terus menerus sehingga pengetahuan yang dimiliki peserta didik menjadi
semakin lengkap.
Pembelajaran tematik menekankan pada keterlibatan peserta didik secara
aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat memperoleh
pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai
pengetahuan yang dipelajarinya. Teori pembelajaran ini dimotori para
tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa
pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan
perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru
perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi
kebermaknaan belajar peserta didik. Pengalaman belajar yang menunjukkan
kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih
efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan
membentuk skema, sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan
kebulatan pengetahuan. Selain itu, penerapan pembelajaran tematik di
sekolah dasar akan sangat membantu peserta didik dalam membentuk
pengetahuannya, karena sesuai dengan tahap perkembangannya peserta didik
yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Pembelajaran tematik memiliki ciri khas, antara lain:
- Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar;
- Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik;
- Kegiatan belajar dipilih yang bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
- Memberi penekanan pada keterampilan berpikir peserta didik;
- Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya; dan
- Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerjasama,
toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Tujuan dari pembelajaran tematik adalah:
- Menghilangkan atau mengurangi terjadinya tumpah tindih materi.
- Memudahkan peserta didik untuk melihat hubungan-hubungan yang bermakna.
- Memudahkan peserta didik untuk memahami materi/konsep secara utuh sehingga penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.
Ruang lingkup pembelajaran tematik meliputi semua KD dari semua mata
pelajaran kecuali agama. Mata pelajaran yang dimaksud adalah: Bahasa
Indonesia, PPKn, Matematika, IPA, IPS, Penjasorkes dan Seni Budaya dan
Prakarya.
Model-model Keterpaduan
Pembelajaran tematik dapat dilaksanakan dengan menggunakan model
pembelajaran. Forgaty (1991, 61) menyebut sepuluh model, yaitu
fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded,
integrated, immersed, dan networked. Pada tahun 1997, Tim Pengembang
D-II PGSD memilih tiga model untuk dikembangkan yaitu Model Jaring
laba-laba (Spider Webbed) – selanjutnya disebut Jaring, Model Terhubung
(connected), dan Model Terpadu (integrated). Model Jaring Laba-laba
(Spider Webbed) ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema.
Setelah tema disepakati, jika dirasa perlu, maka dikembangkan menjadi
subtema dengan tetap memperlihatkan keterkaitan antar mata pelajaran
lain. Setelah itu dikembangkan berbagai aktivitas pembelajaran yang
mendukung.

Dalam prosesnya, jika perencanaan tematik ini ada KD yang tidak
terakomodasi oleh tema manapun, maka ada cara lain yang dapat dilakukan
yaitu dengan menggunakan dua tipe, yaitu tematik hanya berisi satu mata
pelajaran, dan tematik yang berpusat pada materi tertentu dalam satu
pelajaran. Teknik ini hanya digunakan bagi KD yang tidak dapat masuk
dalam tema dan perlu waktu khusus untuk membelajarkannya. Contoh dalam
matematika dapat dilihat seperti berikut ini :
Keunggulan model Jaring Laba-laba antara lain faktor motivasi berkembang
karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat peserta didik.
Mereka dapat dengan mudah melihat bagaimana kegiatan dan ide yang
berbeda dapat saling berhubungan dan memiliki kemudahan untuk lintas
semester.
Kelemahan model ini antara lain kecenderungan untuk mengambil tema
sangat dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi peserta didik. Selain itu
seringkali guru terfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep
menjadi terabaikan. Perlu ada keseimbangan antara kegiatan dan
pengembangan materi pelajaran.
Model Jaring Laba-laba ini menggunakan pendekatan tematik untuk
mengintegrasikan beberapa pelajaran. Tema yang ditetapkan memberi
kesempatan kepada guru untuk menemukan konsep, keterampilan atau sikap
yang akan diintegrasikan.
Langkah-langkah pembelajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan Model Jaring Laba-laba (Webbed) :
- Menentukan tema (bisa diperoleh dari hasil diskusi antar guru,
diskusi dengan peserta didik atau berdasarkan ketetapan sekolah atau
ketentuan yang lain). Tema ditulis di bagian tengah jaring.
- Menentukan tujuan/kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang
dapat dicapai melalui tema yang dipilih. Misalnya, apabila tema cuaca
yang dipilih, maka guru perlu memikirkan apa yang dapat membantu
peserta didik dalam tema tersebut untuk memahami konsep-konsep yang ada.
Kompetensi Dasar ini bisa diletakkan/ditulis di jaring-jaring tema
sesuai mata pelajaran yang ditentukan.
- Memilih kegiatan awal untuk memperkenalkan tema secara keseluruhan.
Hal ini dilakukan agar peserta didik memiliki pengetahuan awal yang akan
meningkatkan rasa ingin tahu mereka sehingga peserta didik terdorong
untuk mengajukan banyak pertanyaan terhadap materi yang sedang dibahas.
Kegiatan awal yang dapat dilakukan, misalnya guru membacakan buku
tentang cuaca atau mengajak peserta didik untuk menonton film tentang
cuaca.
- Mendesain pembelajaran dan kegiatan yang dapat mengaitkan tema
dengan kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang ingin
dicapai. Contoh kegiatan seperti peserta didik ditugaskan untuk
mengamati cuaca selama satu minggu, setiap hari peserta didik mengambil
gambar yang sudah disiapkan sesuai dengan keadaan cuaca misalnya cuaca
mendung, cerah atau berawan. Setelah satu minggu berjalan, peserta didik
menghitungnya dan mengambil kesimpulan tentang cuaca dari data yang
ada.
- Menghubungkan semua kegiatan yang telah dilakukan agar peserta didik
dapat melihat dari berbagai aspek sehingga memperoleh pemahaman yang
baik.
- Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya, mendatangkan nara sumber
untuk memberi informasi tentang cuaca atau melihat papan pajangan hasil
pekerjaan peserta didik untuk dibahas bersama. Di bawah ini disajikan
contoh pajangan hasil karya peserta didik pada tema cuaca.

Seperti yang telah disampaikan di atas bahwa pada tahun 1997, Tim
Pengembang D-II PGSD memilih tiga model untuk dikembangkan Model Jaring
laba-laba, Model Terhubung dan Model Terpadu. Kedua model ini juga
digunakan guru jika dalam implementasi pembelajaran tematik megalami
kesulitan atau kendala dalam mengintegrasikan berbagai kompetensi yang
ada.
Model Terhubung merupakan alternatif jika dalam mengimplementasi-kan
Model Jaring Laba-laba, guru mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan
beberapa mata pelajaran pada tema yang telah ditentukan. Model ini
mengkoneksikan beberapa konsep, beberapa keterampilan, beberapa sikap,
atau bahkan gabungan seperti keterampilan dengan sikap atau keterampilan
dengan konsep yang terdapat pada mata pelajaran tertentu. Sebagai
contoh, ketika guru akan membelajarkan pecahan, guru dapat
mengkoneksikan sikap adil yang dikaitkan dengan makna pecahan sebagai
bagian dari suatu keseluruhan dan keseluruhan itu terdiri atas
bagian-bagian yang sama, dan juga dikaitkan dengan keterampilan
mengerjakan operasi hitung pada pecahan. Pecahan juga berkaitan dengan
decimal, persen, dan jual beli. Ketika menjelaskan pengertian pecahan,
guru dapat mengkoneksikan konsep pecahan dengan bangun-bangun geometri.
Guru sengaja menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, satu
topik dengan topik yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang
lain, atau tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang
dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu
semester berikutnya dalam satu bidang studi, serta menyeimbangkan
sikap, ketrampilan dan pengetahuan.Gambaran model keterhubungan ini
dapat dilihat pada gambar/diagram di bawah ini di mana koneksi dilakukan
hanya dalam satu mata pelajaran saja yaitu pada mata pelajaran
matematika.

Keunggulan model ini antara lain peserta didik dapat memperoleh gambaran
yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik
diberi kesempatan melakukan pendalaman, peninjauan, perbaikan dan
penyerapan (asimilasi) gagasan secara bertahap.
Kelemahan model ini adalah kurang mendorong guru untuk menghubungkan
konsep yang terkait dari berbagai mata pelajaran yang ada karena
terfokus pada keterkaitan konsep yang ada pada mata pelajaran tertentu,
sehingga pembelajaran secara menyeluruh.
Di bawah disajikan hasil kerja peserta didik yang merupakan hasil kegiatan yang difokuskan pada mata pelajaran matematika.
Langkah-langkah pembelajaran dengan Model Terhubung adalah:
- Menentukan tema atau topik yang akan dibahas dalam satu mata pelajaran, misalnya bilangan dalam mata pelajaran matematika.
- Menentukan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan
dikoneksikan. Pemilihan kompetensi yang akan dikoneksikan yang
benar-benar dapat dalam mata pelajaran tersebut.
Model Terpadu (Integrated) menggunakan pendekatan antar mata pelajaran.
Model ini memandang kurikulum sebagai kaleidoskop bahwa interdisiplin
topic disusun meliputi konsep-konsep yang tumpang tindih dan
desain-desain dan pola-pola yang muncul. Pendekatan keterpaduan antar
topik memadukan konsep-konsep dalam matematika, sain, bahasa dan seni
serta penngetahuan sosial.
Model ini dilaksanakan dengan menggabungkan mapel (interdisipliner),
menetapkan prioritas materi pelajaran, keterampilan, konsep dan sikap
yang saling berkaitan di dalam beberapa mata pelajaran. Untuk membuat
tema, guru harus menyeleksi terlebih dahulu konsep dari beberapa mata
pelajaran, selanjutnya dikaitkan dalam satu tema untuk memayungi
beberapa mata pelajaran, dalam satu paket pembelajaran bertema.
Penerapan model ini di SD, harus dapat memadukan semua aspek
pembelajaran bahasa sehingga ketrampilan membaca, menulis, mendengar,
dan berbicara dikembangkan dengan rencana yang bulat utuh.
Keunggulan model ini adalah peserta didik merasa senang dengan adanya
keterkaitan dan hubungan timbal balik antar berbagai disiplin ilmu,
memperluas wawasan dan apresiasi guru, jika dapat diterapkan dengan baik
maka dapat dijadikan model pembelajaran yang ideal di lingkungan
sekolah melalui “integrated day”.
Kelemahan model ini adalah sulit mencari keterkaitan antara mata
pelajaran yang satu dengan yang lainnya, sulit mencari keterkaitan aspek
keterampilan yang terkait, dan membutuhkan kerjasama yang bagus antar
tim pengajar mata pelajaran terkait tema dengan perencanaan dan alokasi
waktu mengajar yang tepat.
Model ini digunakan pada saat guru akan menyatukan beberapa kompetensi
yang terlihat ‘serupa’ dari berbagai mata pelajaran. Tema akan
ditemukan kemudian setelah seluruh kompetensi dasar diintegrasikan.
Berikut adalah langkah – langkah kegiatan dari model terpadu (integrated):
- Membaca dan memahami Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dari seluruh mata pelajaran.
- Memahami Membaca baik-baik Standar Isi mata pelajaran IPS dan IPA
serta mengkaji makna dari Kompetensi Inti dan kompetensi-kompetensi
dasar dari tiap mapel tersebut.
- Mencari kompetensi-kompetensi dasar IPS dan IPA yang bisa disatukan
dalam tema-tema tertentu (dari hasil eksplorasi tema) yang relevan.
Proses ini akan menghasilkan penggolongan KD-KD dalam unit-unit tema.
- Menuliskan tema yang telah dipilih dan susunan KD-KD IPS dan IPA yang sesuai di bawah tema tersebut.
- Melakukan hal yang sama untuk Standar Isi Bahasa Indonesia dan Matematika.
- Meletakkan Kompetensi dasar yang tidak dapat dimasuk kedalam tema di bagian bawah.
Langkah-langkah tersebut menghasilkan skema berikut:
Pembelajaran Tematik Terpadu dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran tematik terpadu yang diterapkan di SD dalam kurikulum 2013
berlandaskan pada Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebutkan, bahwa “Sesuai
dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, maka prinsip
pembelajaran yang digunakan dari pembelajaran parsial menuju
pembelajaran terpadu.” Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada SD/MI dilakukan
melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik-terpadu dari Kelas I
sampai Kelas VI.
- Pendekatan pembelajaran tematik terpadu diberikan di sekolah dasar mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI.
- Pendekatan yang dipergunakan untuk mengintegrasikan kompetensi dasar
dari berbagai mata pelajaran yaitu; intra-disipliner, inter-disipliner,
multi-disipliner dan trans-disipliner. Intra Disipliner adalah
Integrasi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh dalam
setiap mata pelajaran yang integrasikan melalui tema. Inter Disipliner
yaitu menggabungkan kompetensi dasar-kompetensi dasar beberapa mata
pelajaran agar terkait satu sama lain seperti yang tergambar pada mata
pelajaran IPA dan IPS yang diintegrasikan pada berbagai mata pelajaran
lain yang sesuai. Hal itu tergambar pada Struktur Kurikulum SD untuk
Kelas I-III tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS tetapi muatan IPA dan
IPS terintegrasi ke mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia. Multi
Disipliner adalah pendekatan tanpa menggabung-kan kompetensi dasar
sehingga setiap mapel masih memiliki kompetensi dasarnya sendiri.
Gambaran tersebut adalah IPA dan IPS yang berdiri sendiri di kelas
IV-VI. Trans Disipliner adalah pendekatan dalam penentuan tema yang
mengaitkan berbagai kompetensi dari mata pelajaran dengan permasalahan
yang ada di sekitarnya.
- Pembelajaran tematik terpadu disusun berdasarkan gabungan berbagai proses integrasi berbagai kompetensi.
- Pembelajaran tematik terpadu diperkaya dengan penempatan mata
pelajaran Bahasa Indonesia sebagai penghela/alat/media mata pelajaran
lain.
- Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator masing-masing Kompetensi Dasar dari masing-masing mata pelajaran.
Pembelajaran tematik terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata
pelajaran yang terdapat pada Kompetensi Dasar (KD) KI-3 dan juga
keterampilan yang tergambar pada KD KI-4 dalam suatu proses
pembelajaran. Implementasi KD KI-3 dan KD KI-4 diharapkan akan
mengembangkan berbagai sikap yang merupakan cerminan dari KI-1 dan KI-2.
Melalui pemahaman konsep dan keterampilan secara utuh akan membantu
peserta didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran tematik terpadu adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan
tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan
pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran
atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta,
1983). Penggunaan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di
antaranya:
- Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
- Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan
berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
- Peserta didik memahami materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
- Peserta didik dapat dapat memiliki kompetensi dasar lebih baik,
karena mengkaitkan mata pelajaran dengan pengalaman pribadi peserta
didik;
- Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
- Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi
dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata
pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain;
- Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan
secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau
tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan
remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Secara pedagogis pembelajaran tematik berdasarkan pada eksplorasi
terhadap pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan melalui tema
sehingga peserta didik memiliki pemahaman yang utuh. Peserta didik
diposisikan sebagai pengeksplorasi sehingga mampu menemukan
hubungan-hubungan dan pola-pola yang ada di dunia nyata dalam konteks
yang relevan. Pembelajaran tematik dimaksudkan untuk mengembangkan
berbagai kemampuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh melalui proses
pembelajaran tematik terpadu ke dalam konteks dunia nyata yang di bawa
kedalam proses pembelajaran secara kreatif.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
- Pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu nampak. Fokus
pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema-tema
yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik.
- Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan berbagai konsep, keterampilan dan sikap.
4. Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
- Peserta didik dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan.
- Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat
mengakomodasi peserta didik yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan,
pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik.
- Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
- Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences) dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
Karakteristik Mata Pelajaran di SD
PPKN.
Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan terdiri atas:
(1) Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa diperankan
dan dimaknai sebagai entitas inti yang menjadi sumber rujukan dan
kriteria keberhasilan pencapaian tingkat kompetensi dan pengorganisasian
dari keseluruhan ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan; (2) substansi dan jiwa Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,
dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan sebagai
bagian integral dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, yang
menjadi wahana psikologis-pedagogis pembangunan warganegara Indonesia
yang berkarakter Pancasila.
Di SD mata pelajaran PPKn tidak diajarkan tersendiri tetapi
diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain melalui pembelajaran
tematik terpadu.
Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, baik secara lisan maupun tulis, sekaligus mengembangkan
kemampuan beripikir kritis dan kreatif. Peserta didik dimungkinkan untuk
memperoleh kemampuan berbahasanya dari bertanya, menjawab, menyanggah,
dan beradu argumen dengan orang lain.
Sebagai alat ekspresi diri, bahasa Indonesia merupakan sarana untuk
mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang, baik
berbentuk perasaan, pikiran, gagasan, dan keinginan yang dimilikinya.
Begitu juga digunakan untuk menyatakan dan memperkenalkan keberadaan
diri seseorang kepada orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.
Kegiatan berbahasa Indonesia mencakup kegiatan produktif dan reseptif
di dalam empat aspek berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca,
dan menulis. Kemampuan berbahasa yang bersifat reseptif pada hakikatnya
merupakan kemampuan untuk memahami bahasa yang dituturkan oleh pihak
lain. Pemahaman terhadap bahasa yang dituturkan oleh pihak lain tersebut
dapat melalui sarana bunyi atau sarana tulisan. Pemahaman terhadap
bahasa melalui sarana bunyi merupakan kegiatan menyimak dan pemahaman
terhadap bahasa penggunaan sarana tulisan merupakan kegiatan membaca.
Kegiatan reseptif membaca dan menyimak memiliki persamaan yaitu
sama-sama kegiatan dalam memahami informasi. Perbedaan dua kemampuan
tersebut yaitu terletak pada sarana yang digunakan yaitu sarana bunyi
dan sarana tulisan. Mendengarkan adalah keterampilan memahami bahasa
lisan yang bersifat reseptif. Berbicara adalah keterampilan bahasa lisan
yang bersifat produktif, baik yang interaktif, semi interaktif, dan
noninteraktif. Adapun menulis adalah keterampilan produktif dengan
menggunakan tulisan. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang
paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya,
karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat,
melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu
struktur tulisan yang teratur.
Kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, dan bahkan inventif
peserta didik perlu secara sengaja dibina dan dikembangkan. Untuk
melakukan hal itu, mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi wadah
strategis. Melalui membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara peserta
didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir tersebut secara
terus-menerus yang akan diteruskan juga melalui mata pelajaran yang
lain. Hal itu harus benar-benar disadari semua guru BI agar dalam
menjalankan tugasnya dapat mewujudkan mata pelajaran Bahasa Indonesia
sebagai wadah pembinaan/ pengembangan kemampuan berpikir.
Matematika
Matematika dapat didefinisikan sebagai studi dengan logika yang ketat
dari topik seperti kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Matematika
merupakan tubuh pengetahuan yang dibenarkan (justified) dengan
argumentasi deduktif, dimulai dari aksioma-aksioma dan
definisi-definisi".
Kecakapan atau kemahiran matematika merupakan bagian dari kecakapan
hidup yang harus dimiliki siswa terutama dalam pengembangan penalaran,
komunikasi, dan pemecahan masalah- masalah yang dihadapi dalam kehidupan
siswa sehari-hari. Matematika selalu digunakan dalam segala segi
kehidupan, semua bidang studi memerlukan ketrampilan matematika yang
sesuai, merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas, dapat
digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara, meningkatkan
kemampuan berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, memberikan
kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang,
mengembangkan kreaktivitas dan sebagai sarana untuk meningkatkan
kesadaran terhadap perkembangan budaya.
Pada struktur kurikulum SD/MI, mata pelajaran matematika dialokaskan
setara 5 jam pelajaran (1 jam pelajaran = 35 menit) di kelas I dan 6 jam
pelajaran kelas II – VI per minggu, yang sifatnya relatif karena di SD
menerapkan pendekatan pembelajaran tematik-terpadu. Guru dapat
menyesuaikannya sesuai kebutuhan peserta didik dalam pencapaian
kompetensi yang diharapkan. Satuan pendidikan dapat menambah jam
pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut.
Cakupan materi matematika di SD meliputi bilangan asli, bulat, dan
pecahan, geometri dan pengukuran sederhana, dan statistika sederhana
serta kompetensi matematika dalam mendukung pencapaian kompetensi
lulusan SD ditekankan pada:
- Menunjukkan sikap positif bermatematika: logis, kritis, cermat dan
teliti, jujur, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah dalam
menyelesaikan masalah, sebagai wujud implementasi kebiasaan dalam
inkuiri dan eksplorasi matematika.
- Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika, yang terbentuk melalui pengalaman belajar.
- Menghargai perbedaan dan dapat mengidentifikasi kemiripan dan perbedaan berbagai sudut pandang.
- Mengklasifikasi berbagai benda berdasar bentuk, warna, serta alasan pengelompokannya.
- Mengidentifikasi dan menjelaskan informasi dari komponen, unsur dari benda, gambar atau foto dalam kehidupan sehari-hari.
- Menjelaskan pola bangun dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan dugaan kelanjutannya berdasarkan pola berulang.
- Memahami efek penambahan dan pengambilan benda dari kumpulan objek,
serta memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan asli, bulat dan
pecahan.
- Menggunakan diagram, gambar, ilustrasi, model konkret atau simbolik dari suatu masalah dalam penyelesaian masalah.
- Memberikan interpretasi dari sebuah sajian informasi/data.
IPA
Materi IPA di SD kelas I sd III terintegrasi dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pembelajaran
dilakukan secara terpadu dalam tema dengan mata pelajaran lain. Untuk SD
kelas IV sd VI, IPA menjadi mata pelajaran tersendiri namun
pembelajaran dilakukan secara tematik terpadu.
Ruang lingkup materi mata pelajaran IPA SD mencakup Tubuh dan panca
indra, Tumbuhan dan hewan, Sifat dan wujud benda- benda sekitar, Alam
semesta dan kenampakannya, Bentuk luar tubuh hewan dan tumbuhan, Daur
hidup makhluk hidup, Perkembangbiakan tanaman, Wujud benda, Gaya dan
gerak, Bentuk dan sumber energi dan energi alternatif, Rupa bumi dan
perubahannya, Lingkungan, alam semesta, dan sumber daya alam, Iklim dan
cuaca, Rangka dan organ tubuh manusia dan hewan, Makanan, rantai
makanan, dan keseimbangan ekosistem, Perkembangbiakan makhluk hidup,
Penyesuaian diri makhluk hidup pada lingkungan, Kesehatan dan sistem
pernafasan manusia, Perubahan dan sifat benda, Hantaran panas, listrik
dan magnet, Tata surya, Campuran dan larutan.
IPS
IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang kehidupan manusia
dalam berbagai dimensi ruang dan waktu serta berbagai aktivitas
kehidupannya. Mata pelajaran IPS bertujuan untuk menghasilkan
warganegara yang religius, jujur, demokratis, kreatif, kritis, senang
membaca, memiliki kemampuan belajar, rasa ingin tahu, peduli dengan
lingkungan sosial dan fisik, berkontribusi terhadap pengembangan
kehidupan sosial dan budaya, serta berkomunikasi secara produktif.
Ruang lingkup IPS terdiri atas pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap
yang dikembangkan dari masyarakat dan disiplin ilmu sosial. Penguasaan
keempat konten ini dilakukan dalam proses belajar yang terintegrasi
melalui proses kajian terhadap konten pengetahuan. Secara rinci, materi
IPS dirumuskan sebagai berikut:
- Pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan
umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya
- Keterampilan: berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning
skills, inquiry), memecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama
dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa.
- Nilai: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, sosial, budaya,
kebangsaan, cinta damai, dan kemanusiaan serta kepribadian yang
didasarkan pada nilai-nilai tersebut.
- Sikap: rasa ingin tahu, mandiri, menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan inovatif, dan bertanggungjawab
Materi IPS mencakup kehidupan manusia dalam:
- Tempat dan Lingkungan
- Waktu Perubahan dan Keberlanjutan
- Organisasi dan Sistem Sosial
- Organisasi dan Nilai Budaya
- Kehidupan dan Sistem Ekonomi
- Komunikasi dan Teknologi
Pengemasan materi IPS disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pada kelas I
– III (SD/MI) IPS sebagai bagian integral dari mata pelajaran lain
yaitu bahasa Indonesia, dan PPKn yang diajarkan secara tematik terpadu.
Seni Budaya dan Prakarya
Mata pelajaran Seni Budaya merupakan aktivitas belajar yang menampilkan
karya seni estetis, artistik, dan kreatif yang berakar pada norma,
nilai, perilaku, dan produk seni budaya bangsa. Mata pelajaran ini
bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami seni
dalam konteks ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta berperan dalam
perkembangan sejarah peradaban dan kebudayaan, baik dalam tingkat
lokal, nasional, regional, maupun global. Pembelajaran seni di tingkat
pendidikan dasar dan menengah bertujuan mengembangkan kesadaran seni dan
keindahan dalam arti umum, baik dalam domain konsepsi, apresiasi,
kreasi, penyajian, maupun tujuan-tujuan psikologis-edukatif untuk
pengembangan kepribadian peserta didik secara positif. Pendidikan Seni
Budaya di sekolah tidak semata-mata dimaksudkan untuk membentuk peserta
didik menjadi pelaku seni atau seniman namun lebih menitik beratkan pada
sikap dan perilaku kreatif, etis dan estetis .
Mata pelajaran Seni Budaya di tingkat pendidikan dasar sangat
kontekstual dan diajarkan secara konkret, utuh, serta menyeluruh
mencakup semua aspek (seni rupa, seni musik, seni tari dan prakarya),
melalui pendekatan tematik. Untuk itu para pendidik seni harus memiliki
wawasan yang baik tentang eksistensi seni budaya yang hidup dalam
konteks lingkungan sehari-hari di mana ia tinggal, maupun pengenalan
budaya lokal, agar peserta didik mengenal, menyenangi dan akhirnya
mempelajari. Dengan demikian pembelajaran seni budaya dan prakarya di SD
harus dapat; “Memanfaatkan lingkungan sebagai kegiatan apresiasi dan
kreasi seni”.
Ruang lingkup materi untuk seni budaya dan prakaraya di SD/MI mencakup:
gambar ekspresif, mozaik, karya relief, lagu dan elemen musik, musik
ritmis, gerak anggota tubuh, meniru gerak, kerajinan dari bahan alam,
produk rekayasa, pengolahan makanan, cerita warisan budaya, gambar
dekoratif, montase, kolase, karya tiga dimensi, lagu wajib, lagu
permainan, lagu daerah, alat musik ritmis dan melodis, gerak tari
bertema, penyajian tari daerah, kerajinan dari bahan alam dan buatan
(anyaman, teknik meronce, fungsi pakai, teknik ikat celup, dan
asesoris), tanaman sayuran, karya rekayasa sederhana bergerak dengan
angin dan tali, cerita rakyat, bahasa daerah, gambar ilustrasi, topeng,
patung, lagu anak-anak, lagu daerah, lagu wajib, musik ansambel, gerak
tari bertema, Penyajian tari bertema, kerajinan dari bahan tali temali,
bahan keras, batik, dan teknik jahit, apotik hidup dan merawat hewan
peliharaan, olahan pangan bahan makanan umbi-umbian dan olahan non
pangan sampah organik atau anorganik , cerita secara lisan dan tulisan
unsur-unsur budaya daerah, bahasa daerah, pameran dan pertunjukan karya
seni.
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan pada hakikatnya adalah
proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan
perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik,
mental, serta emosional. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, daripada
hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan
mentalnya.
Pendidikan Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan membantu peserta
didik mengembangkan pemahaman tentang apa yang mereka perlukan untuk
membuat komitmen seumur hidup tentang arti penting hidup sehat, aktif
dan mengembangkan kapasitas untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan
produktif. Sehingga berdampak pada meningkatkan produktivitas dan
kesiapan untuk belajar, meningkatkan semangat, mengurangi
ketidakhadiran, mengurangi biaya perawatan kesehatan, penurunan kelakuan
anti-sosial seperti bullying dan kekerasan, mempromosikan hubungan yang
aman dan sehat, dan meningkatkan kepuasan pribadi.
Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Usia SD, pada usia antara 7-8
tahun, anak sedang memasuki perkembangan gerak dasar dan memasuki tahap
awal perkembangan gerak spesifik. Karakteristik awal perkembangan gerak
spesifik dapat diidentifikasi dengan makin sempurnanya kemampuan
melakukan berbagai kemampuan gerak dasar yang menuntut kemampuan
koordinasi dan keseimbangan agak kompleks. Oleh karenanya, keterampilan
gerak yang dimiliki anak telah dapat diorientasikan pada berbagai
bentuk, jenis dan tingkat permainan yang lebih kompleks.
Pada anak berusia antara 9 s.d 10 tahun, anak telah dapat
mengunjukkerjakan rangkaian gerak yang mutipleks-kompleks dengan tingkat
koordinasi yang makin baik. Kualitas kemampuan pada tahap ini
dipengaruhi oleh ketepatan rekayasa dan stimulasi lingkungan yang
diberikan kepada anak pada usia sebelumnya. Pada tahap ini, anak
laki-laki dan perempuan telah memasuki masa awal masa adolense. Dengan
pengaruh perkembangan hormonal pada usia ini, mereka akan mengalami
pertumbuhan fisik dan perkembangan fungsi motorik yang sangat cepat.
Ruang lingkup materi mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah sebagai berikut:
- Pola Gerak Dasar, meliputi: a). pola gerak dasar lokomotor atau
gerakan berpindah tempat, misalnya; berjalan, berlari, melompat,
berguling, mencongklak, b) pola gerak non-lokomotor atau bergerak di
tempat, misalnya; membungkuk, meregang, berputar, mengayun, mengelak,
berhenti, c). Pola gerak manipulatif atau mengendalikan/ mengontrol
objek, misalnya; melempar bola, menangkap bola, memukul bola menggunakan
tongkat, menendang bola.
- Aktivitas Permainan dan Olahraga termasuk tradisional, misalnya;
rounders, kasti, softball, atletik sepak bola, bola voli, bola basket,
bola tangan, sepak takraw, tenis meja, bulutangkis, silat, karate.
Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk kecenderungan alami anak untuk
bermain melalui kegiatan bermain informal dan meningkatkan pengembangan
keterampilan dasar, kesempatan untuk interaksi sosial. Menerapkannya
dalam kegiatan informal dalam kompetisi dengan orang. Juga untuk
mengembangkan keterampilan dan memahami dari konsep-konsep kerja sama
tim, serangan, pertahanan dan penggunaan ruang dalam bentuk
eksperimen/eksplorasi untukmengembangkan keterampilan dan pemahaman.
- Aktivitas Kebugaran, meliputi pengembangan komponen keburan
berkaitan dengan kesehatan, terdiri dari; daya tahan (aerobik dan
anaerobik), kekuatan, kelenturan, komposisi tubuh, dan pengembangan
komponen kebugaran berkaitan dengan keterampilan, terdiri dari;
kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi.
- Aktivitas Senam dan Gerak Ritmik, meliputi senam lantai, senam alat,
apresiasi terhadap kualitas estetika dan artistik dari gerakan, tarian
kreatif dan rakyat. Konsep gerak berkaitan eksplorasi gerak dengan tubuh
dalam ruang, dinamika perubahan gerakan dan implikasi dari bergerak di
kaitannya dengan apakah orang lain dan/nya lingkungannya sendiri.
- Aktivitas Air, memuat kompetensi dan kepercayaan diri saat peserta
didik berada di dekat, di bawah dan di atas air. Memberikan kesempatan
unik untuk pengajaran gaya-gaya renang (punggung, bebas, dada, dan
kupu-kupu) dan juga penyediaan peluang untuk kesenangan bermain di air
dan aspek lain dari olahraga air termasuk pertolongan dalam olahraga
air.
- Kesehatan, meliputi; kebersihan diri sendiri dan lingkungan, makanan
dan minuman sehat, penanggulangan cidera ringan, kebersihan alat
reproduksi, penyakit menular, menghidari diri dari bahaya narkoba,
psikotropika, seks bebas, P3K, dan bahaya HIV/AIDS.
DESAIN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
Perencanaan Pembelajaran
Mengkaji Silabus
Dalam rangka pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu, pendidik perlu
melakukan pengkajian terhadap silabus yang telah disiapkan sebelum
mengembangkannya menjadi RPP yang akan digunakan dalam kegiatan di
sekolah. Kegiatan pengkajian silabus bertujuan untuk mengetahui antara
lain keterkaitan antara sub tema dengan kompetensi mata pelajaran yang
akan dibelajarkan dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Melalui
kegiatan pengkajian silabus ini diharapkan guru juga memperoleh beberapa
informasi, antara lain: (1) ketersediaan tema dan sub tema, (2)
persebaran kompetensi dasar pada tema (pemetaan), dan (3) pengembangan
indikator pada setiap tema (jaringan indikator pada tema.
Pengembangan Tema dan sub tema
Pembelajaran tematik terpadu dilaksanakan dengan menggunakan berbagai
tema sebagai pemersatu pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik terpadu
tema merupakan alat atau wahana untuk mencapai tujuan. Pada Kurikulum
2013, pemerintah telah menyiapkan tema-tema yang dapat digunakan
pendidik dalam proses pembelajaran tematik terpadu. Dalam
implementasinya, guru perlu mempelajari tema yang tersedia dan jika
berdasarkan hasil analisis daftar tema yang tersedia dirasa kurang atau
belum memenuhi karakteristik sekolah/daerah guru dapat menambah atau
mengurangi tema atau sub tema dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip
pemilihan tema yaitu:
• Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan peserta didik.
• Dari yang termudah menuju yang sulit.
• Dari yang sederhana menuju yang kompleks.
• Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
• Memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri peserta didik.
• Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan peserta didik, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya.
Persebaran kompetensi dasar pada tema (pemetaan)
Pendidik perlu melakukan persebaran seluruh Kompetensi Dasar dari setiap
mata pelajaran pada tema yang tersedia, sehingga tidak ada kompetensi
dasar yang tertinggal. Jika dari hasil pemetaan terdapat KD yang belum
masuk dalam silabus, guru dapat menambahkannya. Contoh format yang dapat
digunakan adalah:
Format Pemetaan Kompetensi Dasar dalam Tema
Berdasarkan format pemetaan Pendidik dapat mengembangkan indikator untuk
setiap sub tema yang akan dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan untuk
melihat keterkaitan antar mata pelajaran. Cara yang dapat dilakukan
adalah dengan mengembangkan indikator pada jaringan indikator. contoh
jaringan indikator pada sub tema seperti berikut:
Mengembangkan RPP
Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Menyusun atau mengembangkan RPP adalah langkah perencanaan
yang harus dilakukan oleh setiap guru.
RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu
pertemuan (satu hari). RPP dikembangkan dari silabus dengan
memperhatikan buku peserta didik dan buku guru yang sudah disiapkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
RPP disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
Prinsip-prinsip dalam menyusun RPP mencakup hal-hal sebagai berikut.
- Setiap RPP harus memuat secara utuh memuat kompetensi sikap
spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari
KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).
- Memperhatikan perbedaan individual peserta didik misalnya
kemampuanawal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi
belajar, kemampuansosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,
kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau
lingkungan peserta didik.
- Mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif.
- Menggunakan prinsip berpusat pada peserta didik untuk mendorong
semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi,
inovasi dan kemandirian.
- Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.
- Memberi umpan balik dan tindak lanjut untuk keperluan penguatan, pengayaan dan remedial.
- Menekankan adanya keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,
penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
- Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
- Menekankan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara
integratif, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Komponen RPP terdiri atas:
- Identitas satuan pendidikan,
- Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
- Kelas/semester;
- Materi pembelajaran;
- Alokasi waktu yang ditentukan sesuai dengan keperluan untuk
pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam
pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
- Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
- Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan;
- Mmetode pembelajaran, yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
- Media dan sumber pembelajaran yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran;
- Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
- Penilaian hasil pembelajaran memuat soal, kunci jawaban, pedoman
skoring/rubrik. Komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan
dalam bentuk format berikut ini.
Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD
yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum
yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati. Indikator
untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk
perilaku spesifik yang dapat diamati dan terukur. Pada kegiatan inti,
kelima pengalaman belajar tidak harus muncul seluruhnya dalam satu
pertemuan tetapi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung
cakupan muatan pembelajaran.
Tahapan pengembangan RPP pembelajaran tematik:
- Memilah dan memilih Kompetensi Dasar Mata pelajaran pada Silabus yang dapat dipadukan dalam tema tertentu untuk satu hari.
b. Memilah dan memilih kegiatan-kegiatan di dalam silabus yang sesuai dengan KD.
- Kegiatan dalam silabus yang disiapkan untuk 3 atau 4 minggu
(tergantung dengan tema/subtema) perlu dipilah menjadi kegiatan untuk
satu minggu, kemudian dipilah dan dipilih lagi untuk kegiatan satu hari.
- Dalam memilah dan memilih kegiatan dari silabus, guru perlu
memperhatikan keterkaitan antara berbagai kegiatan dari beberapa mata
pelajaran yang akan diintegrasikan sehingga pembelajaran berlangsung
sesuai dengan alur.
- Menentukan Indikator pencapaian kompetensi berdasarkan kegiatan di silabus yang sudah dipilih.
- Di dalam menyusun RPP, selain menggunakan silabus, guru bisa
menggunakan buku teks pelajaran dan buku guru serta hasil analisis KD
dengan tema yang telah dilakukan.
- Di dalam menyusun RPP, guru harus memperhatikan alokasi waktu untuk setiap kegiatan dan kedalaman kompetensi yang diharapkan.
- Apabila kompetensi yang akan diberikan dalam suatu tema memerlukan
kemampuan prasyarat yang belum pernah diajarkan, guru perlu mengajarkan
kompetensi prasyarat terlebih dahulu.
Pelaksanaan Pembelajaran
Tahapan pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu setiap hari dilakukan dengan
menggunakan tiga tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.
- Kegiatan Pendahuluan. Kegiatan ini dilakukan terutama untuk
menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses
pembelajaran; memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual
sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari,
dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional, dan
internasional; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan
pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan
tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus. Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal
pembelajaran untuk mendorong peserta didik menfokuskan dirinya agar
mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sifat dari kegiatan
pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat
dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan
disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah
bercerita, kegiatan fisik/jasmani sesuai dengan tema, bernyanyi,
bernyanyi sambil menari mengikuti irama musik, dan menceritakan
pengalaman.
- Kegiatan Inti. Kegiatan inti difokuskan pada
kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan sikap, pengetahuan
dan keterampilan. Dalam rangka pengembangan Sikap, maka seluruh
aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang
mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas melalui proses afeksi
yang dimulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga
mengamalkan. Untuk kompetensi pengetahuan dilakukan melalui aktivitas
mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga
mencipta. Untuk kompetensi keterampilan diperoleh melalui kegiatan
mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi
materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari
keterampilan harus mendorong peserta didik untuk melakukan proses
pengamatan hingga penciptaan. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut
perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis
penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran
yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based
learning). Seluruh aktivitas pembelajaran dalam kegiatan inti meliputi
kegiatan mengamati, menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan
mengkomunikasikan.
- Kegiatan Penutup. Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk
menenangkan dan melakukan refleksi dalam rangka evaluasi. Evaluasi yang
dilakukan mengkhususkan pada seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran
dan hasil-hasil yang diperoleh dan yang selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran
yang telah berlangsung; Kegiatan penutup juga dimaksudkan untuk
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; melakukan
kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas
individual maupun kelompok; dan menginformasikan rencana kegiatan
pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Beberapa contoh kegiatan
akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan
hasil pembelajaran yang telah dilakukan, pesan-pesan moral,
musik/apresiasi musik/bernyanyi.
Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran Tematik terpadu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Berpusat pada peserta didik. Pembelajaran tematik berpusat pada
peserta didik (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan
belajar modern yang lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai
subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.
- Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat luwes. Guru dapat
mengaitkan materi dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang
lainnya, bahkan mengaitkannya dengan keadaan lingkungan di mana sekolah
dan peserta didik berada.
- Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
Peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
- Menggunakan prinsip belajar yang menyenangkan. Suasana dalam
pembelajaran diupayakan berlangsung secara menyenangkan. Menyenangkan
bisa dibangun dengan berbagai kegiatan yang bisa mengakomodasi kegemaran
peserta didik, misal bermain teka-teki, tebak kata, bernyanyi lagu
anak-anak, menari atau kegiatan lain yang disepakati bersama dengan
peserta didik. Menyenangkan tidak dimaksudkan banyak tertawa atau banyak
bernyanyi. Menyenangkan lebih dimaksudkan ‘mengasyikan’.
- Pembelajaran peserta didik aktif. Peserta didik terlibat baik fisik
maupun mental dalam proses pembelajaran sejak perencanaan hingga
evaluasi pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran
Pembelajaran tematik terpadu perlu memperhatikan pendekatan, strategi,
model dan metode pembelajaran. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik
tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan
yang berpusat pada pendidik menurunkan strategi pembelajaran langsung
(direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran
ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri
serta strategi pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127). Strategi suatu
seni menggunakan kecakapan dan sumber daya untuk mencapai sasarannya
melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang paling
menguntungkan. Model pembelajaran adalah rencana (pola) yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pengajaran
dan membimbing pengajaran. Sedangkan Metode merupakan jabaran dari
pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode.
Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian
tujuan.
Di dalam Kurikulum 2013 Pendekatan pembelajaran menggunakan pendekatan
tematik terpadu dan pendekatan saintifik. Strategi pada pembelajaran
tematik terpadu adalah pembelajaran peserta didik aktif. Model
pembelajaran tematik terpadu menggunakan model jaring laba-laba. Metode
berupa metode proyek yang pembelajarannya dilakukan di dalam atau di
luar ruang kelas yang melibatkan peserta didik untuk melakukan kegiatan
yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dan mata pelajaran. Kegiatan
tersebut harus melibatkan berbagai keterampilan seperti keterampilan
fisik, intelektual dan juga mata pelajaran dan kompetensinya yang
mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Implementasi pembelajaran
terpadu dilaksanakan dalam tahapan pembukaan, inti dan penutup. Pada
kegiatan inti seluruh aktivitas pembelajaran meliputi kegiatan
mengamati, menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan
mengomunikasikan.
Dalam kegiatan mengamati (observing) peserta didik menangkap fenomena
dan/atau informasi tentang benda, manusia, alam, kegiatan, dan gagasan
melalui proses pengindraan seketika dan/atau pengindraan bertujuan.
Misalnya: melihat, mendengar, menyimak, meraba, membaca, memanipulasi.
Kegiatan menanya mendorong Peserta didik mengajukan pertanyaan dari
yang bersifat faktual sampai ke yang bersifat hipotesis, diawali dengan
bimbingan guru sampai bersifat mandiri (menjadi suatu kebasaan) untuk
menggali informasi dan/atau makna sesuatu melalui proses bertanya
dialektis (dialectical questioning) dengan mengajukan sejumlah
pertanyaan pelacak (probing question), misalnya mengajukan pertanyaan:
Apa, Dimana, Siapa, Kapan, Mengapa, Bagaimana, Berapa, dan seterusnya.
Kegiatan mengasosiasi/menalar menekankan aktivitas belajar bagi Peserta
didik untuk melakukan proses pemahaman (comprehension) untuk memperoleh/
mendapatkan makna/ pengertian tentang fakta, gejala, kegiatan, gagasan,
nilai dll (acquiring and integrating knowledge) melalui kegiatan:
membedakan, membandingkan, menganalisis data dalam bentuk membuat
kategori, menentukan hubungan data/ kategori,menyimpulkan dari hasil
analisis data dll dimulai dari unstructured – unistructure – multi
structure – complicated structure.
Kegiatan mengomunikasikan menekankan aktivitas belajar Peserta didik
untuk menyajikan gagasan, model/produk kreatif dan memberikan
penjelasan/mendemonstrasikan hasil pemecahan masalah, pengembangan,
gagasan baru, kesimpulan dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan,
gambar atau media lainnya di kelas/di luar kelas.
Dalam melaksanakan kegiatan dengan pendekatan saintifik tersebut,
pendidik perlu menyiapkan berbagai kegiatan yang sesuai dengan
karakteristik anak usia SD. Gambaran perkembangan anak usia SD untuk
aspek fisik khususnya pada dimensi tinggi dan berat badan pada umumnya
menurut F.A.Hadis, pertumbuhan fisik anak usia SD cenderung lebih lambat
dan konsisten bila dibandingkan dengan masa usia dini. Rata- rata anak
usia SD mengalami penambahan berat badan sekitar 2,5 - 3,5 kg dan
penambahan tinggi badan 5 – 7 cm per tahun. Sedangkan untuk perkembangan
kemampuan motorik pada umumnya:
1. Ketangkasan anak meningkat,
2. Dapat bermain sepeda,
3. Sudah mengetahui kanan dan kiri,
4. Mulai membaca dengan lancar
5. Peningkatan minat pada bidang spiritual.
6. Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
7. Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
Perkembangan kognitif anak usia awal antara lain:
1. Senang menghasilkan sesuatu dan mengoreksi diri sendiri
2. Mulai mengenal dunia yang lebih luas
3. Sedikit berimajinasi,
4. Rasa ingin tahu meningkat
5. Mampu beradaptasi dengan beberapa kondisi yang dihadapi
6. Bermasalah dengan kondisi abstrak, angka-angka yang banyak, periode waktu dan ruang
Karakteristik yang dimiliki anak-anak usia SD pada umumnya adalah:
- Senang Bergerak. Berbeda dengan orang dewasa yang betah duduk
berjam-jam, anak-anak usia SD lebih senang bergerak. Anak-anak usia ini
dapat duduk dengan tenang maksimal sekitar 30 menit.
- Senang Bermain. Dunia anak memang dunia bermain yang penuh
kegembiraan, demikian juga dengan anak-anak usia sekolah dasar, mereka
masih sangat senang bermain. Apalagi anak-anak SD kelas rendah.
- Senang Melakukan Sesuatu Secara Langsung. Anak-anak usia SD
akan lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan guru jika ia dapat
mempraktikkan sendiri secara langsung pelajaran tersebut.
- Senang Bekerja dalam Kelompok. Pada usia SD, anak-anak mulai
intens bersosialisi. Pergaulan dengan kelompok sebaya, akan membuat anak
usia SD bisa belajar banyak hal, misalnya setia kawan, bekerja sama,
dan bersaing secara sehat.
Berdasarkan karakteristik anak kelas awal tersebut, maka pendidik perlu
menyiapkan berbagai aktivitas/ kegiatan yang cocok dan sesuai. Berbagai
kegiatan yang dapat dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangan anak
kelas awal (kelas I-III) adalah:
- Anak mengenali sesuatu berdasarkan apa yang didengarnya karena itu guru dapat membacakan teks atau cerita.
- Anak usia 7 tahun adalah pendengar yang baik, sehingga guru memberi kesempatan kepada anak untuk mendengarkan.
- Anak usia 8 tahun “suka bekerjasama”, guru dapat memberikan tugas untuk melakukan kegiatan berkelompok.
- Anak usia 9 tahun mempunyai ciri “sedikit berimajinasi” oleh karena
itu dalam kegiatan mengamati, guru perlu mendorong anak untuk mampu
berimajinasi.
- Guru memberi kesempatan dan menyiapkan kegiatan-kegiatan yang dapat
dilakukan anak di luar ruang bersama teman dan sendiri di dalam ruang.
- Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk bergerak secara terarah untuk mengasah keterampilannya.
- Anak perlu diberi kesempatan mengasah keterampilan fisiknya sehingga
dapat mengembangkan kemampuan motorik kasarnya misalnya melalui
berbagai kegiatan berjalan, berlari, melompat, melempar dan untuk
motorik halusnya dengan memberi kesempatan anak untuk menulis,
menggambar, menggunting.
- Guru memberi kesempatan anak untuk melakukan kegiatan sendiri secara aktif tanpa diberi contoh.
- Untuk anak usia 8 tahun guru dapat menyiapkan berbagai kegiatan yang
mendorong anak untuk berbicara secara aktif karena mereka suka
melebih-lebihkan dalam bicara.
- Memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi pembicara misalnya
menyampaikan hasil kegiatannya, memberi komentar terhadap sesuatu dan
sebagainya.
- Memberi kesempatan anak untuk melakukan diskusi atau kegiatan tanya
jawab berpasangan karena pada umumnya mereka juga suka berdialog atau
melakukan percakapan berpasangan.
- Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk berkata-kata yang
sifatnya deskriptif misalnya menceritakan pengalaman yang dialaminya.
- Guru perlu menyiapkan kegiatan yang mendorong anak unuk berbicara
secara aktif bahkan saat bicara anak usia ini dapat melebih-lebihkan
dalam bicaranya dan perkembangan kosakatanya sangat cepat.
- Mendorong anak untuk melaporkan hasil kerjanya secara lisan karena
pada umumnya mereka adalah pembicara yang baik dam mempunyai
perkembangan kosakata yang cepat.
- Untuk anak kelas awal guru dapat mendorong anak mengkomunikasikannya
dalam berbagai bentuk gambar lengkap (misal gambar manusia sudah dapat
lengkap), mewarnai gambar dengan warna natural/alami menyerupai warna
aslinya.
- Guru perlu sering memperingatkan anak usia awal untuk lebih teliti
dalam mengerjakan tugas karena pada umumnya mereka bergerak cepat dan
bekerja dengan tergesa-gesa, karena mereka penuh dengan energi.
- Guru perlu menyiapkan berbagai kegiatan yang dilakukan tidak hanya
di dalam ruang tetapi juga di luar ruang karena anak usia ini perlu
pelepasan energi secara fisik (kegiatan di luar ruangan).
- Guru perlu mengatur kegiatan yang belum memerlukan konsentrasi yang lama karena anak usia ini konsentrasinya masih terbatas.
- Guru perlu menyiapkan kegiatan yang menyenangkan karena pada usia
ini perkembangan sosialnya masih sangat baik dan penuh dengan humor.
- Guru perlu menyiapkan kegiatan yang memungkinkan anak untuk bekerjasama khususnya dengan teman yang sejenis.
- Batasan atau aturan perlu ditata sedemikian rupa karena anak masih bermasalah dengan aturan dan batasan-batasan.
- Guru perlu menyiapkan berbagai kegiatan yang menghasilkan sesuatu karena pada usia ini mereka senang menghasilkan karya.
- Guru juga menyiapkan kegiatan-kegiatan yang berbentuk operasional
konkret karena pada masa ini mereka masih bermasalah dengan kondisi
abstrak.
- Anak usia ini bukanlah pendengar yang baik karena pada saat
mendengarkan ia akan dipenuhi pula dengan gagasan sehingga terkadang
tidak ingat apa yang telah dikatakannya.
- Mendorong anak mengungkapkan secara deskriptif, misalnya menceritakan pengalaman yang dialaminya.
- Menyiapkan berbagai kegiatan yang sifatnya eksplorasi misalnya
mencari fakta dalam kamus, menyelidiki lingkungan, untuk dapat mengenal
dunia yang lebih luas bukan hanya yang dekat dengan dirinya.
Pengelolaan Kelas
Keberhasilan pembelajaran tematik terpadu tergantung pula pada
lingkungan kelas yang diciptakan yang dapat mendorong peserta didik
untuk belajar dan menjadi tempat belajar yang nyaman, aman, dan
menyenangkan. Penataan lingkungan kelas bisa berupa pengaturan peserta
didik dan ruang kelas. Pengaturan tersebut mencakup pengaturan
meja-kursi peserta didik, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan
penataan pajangan hasil karya peserta didik. Pengorganisasian atau
pengaturan peserta didik dapat dilakukan dalam bentuk klasikal, kelompok
dan individual.
Penataan lingkungan kelas perlu memperhatikan 4 hal berikut:
- Mobilitas, memudahkan peserta didik untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain,
- Aksesibilitas, memudahkan peserta didik mengakses sumber dan alat bantu belajar,
- Interaksi, memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan sesama teman atau pendidiknya, dan
- Variasi kegiatan, memudahkan peserta didik melakukan berbagai
kegiatan yang beragam, misal berdiskusi, melakukan percobaan, dan
presentasi.
Ruang kelas juga dapat dilengkapi dengan Pusat belajar (‘learning
centre’). Pusat belajar ini dapat ditempatkan di pojok kelas. Pusat
belajar ini dapat berisi beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan dan
dapat diubah dari waktu ke waktu. Fungsi Pusat Belajar dapat menjadi
tempat bagi anak yang sudah menyelesaikan kegiatan sehingga tidak
mengganggu teman lainnya. Contoh pusat belajar yang dapat disesiakan
misalnya pojok dengan rak yang diisi beberapa buku.
Pusat belajar ini suatu saat dapat diubah menjadi pojok matematika, yang
dapat digunakan oleh peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan
atau menggunakan sebagai media yang berhubungan dengan matematika.
Kegiatan di tempat ini peserta didik dapat mengerjakan tugas atau
bereksperimen dengan matematika. Sumber atau media belajar dapat
diletakkan pada rak, meja, atau kotak – kotak yang diberi label sehingga
mudah ditemukan saat dibutuhkan.
Karya anak juga dapat dipajangkan. Pajangan diganti secara rutin sesuai
dengan tema yang sedang digunakan. Contoh pada waktu pelaksanaan tema
“Tumbuhan”, kelas dapat dirancang dengan nuansa taman bunga dengan
menghiasi berbagai macam bunga-bunga yang digantung di jendela atau di
langit-langit kelas. Pajangan disusun dengan memperhatikan estetika dan
berada dalam jangkauan pandang/sentuh peserta didik sehingga dapat
digunakan sebagai sumber belajar oleh peserta didik.
MODEL PEMBELAJARAN
Pembelajaran tematik terpadu dapat dilaksanakan dengan menggunakan
berbagai model pembelajaran. Model adalah sesuatu yang direncanakan,
direkayasa, dikembangkan, diujicobakan, lalu dikembalikan pada badan
yang mendesainnya, kemudian diujicoba ulang, baru menjadi sesuatu yang
final. Melalui tahapan tersebut, maka suatu model dapat melaksanakan
fungsinya sebagaimana mestinya. Ilmiah, (George L. Gropper dan Paul A.
Ross dalam Oemar Hamalik, 2000).
Model, suatu struktur secara konseptual yang telah berhasil dikembangkan
dalam suatu bidang, dan sekarang diterapkan, terutama untuk membimbing
penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam bidang yang
belum begitu berkembang, (Marx, 1976). Model adalah kerangka konseptual
yang dipakai sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.
Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
dan melaksanakan aktivitas pembelajaran, (Winataputra, 1996). Model
pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas
pembelajaran.
Berikut ini akan dibahas beberapa model pembelajaran dari sekian model
yang telah banyak dikembangkan, antara lain: Model Pembelajaran
Langsung, Model Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran Kontekstual,
Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing, Problem Based Learning.
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta
didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan
psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang
dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Dalam pembelajaran langsung tersebut peserta didik melakukan kegiatan
belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau
menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam
kegiatan analisis. Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan
dan keterampilan langsung atau yang disebut dengan instructional
effect.
Ciri-ciri model pembelajaran langsung antara lain:
- Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar
- Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
- Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung berlangsung dan berhasilnya pengajaran
Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif antara lain:
- Untuk menuntaskan materi belajar, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif
- Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan heterogen
- Jika dalam kelas terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar tiap kelompok berbaur
- Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan
Tujuan :
- Hasil Belajar Akademik. Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik
- Penerimaan terhadap keragaman. Siswa dapat menerima teman-temannya yang beraneka latar belakang.
- Pengembangan ketrampilan sosial. Sintaks kegiatan pembelajaran kooperatif
Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran Kontekstual mengasumsikan bahwa secara natural pikiran
mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang
melalui pencarian hubungan masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan
materi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian siswa akan
menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa akan mampu
menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan
belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan
pengetahuannya. Siswa diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang
akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memadukan materi
pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.
Pembelajaran Kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan
pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari
dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar untuk
membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan harian
mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran Kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan
pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka
menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka
menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan
informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka
miliki sebelumnya (Elaine B. Johnson, 2007:14).
Dalam Pembelajaran Kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu:
- Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
- Melakukan pekerjaan yang berarti,
- Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,
- Bekerja sama,
- Berpikir kritis dan kreatif,
- Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,
- Mencapai standar yang tinggi, dan
- Menggunakan penilaian otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66).
Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran
Kontekstual adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi
yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara
bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat
makna di dalamnya.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu para
guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses pembelajaran
lebih dipentingkan daripada hasil.
Pembelajaran Kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat
menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan meraka (Sanjaya, 2005:109).
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama,
Pembelajaran Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa
untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada
proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks
Pembelajaran Kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima
pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
Kedua, Pembelajaran Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan
hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab
dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan
nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan
tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga, Pembelajaran Kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkan
pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual tidak
hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya,
tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks Pembelajaran Kontekstual
tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai
bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan Kontekstual:
- Dalam Pembelajaran Kontekstual pembelajaran merupa kan proses
pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya,
apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah
dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa
adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
- Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka
memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya,
pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memperhatikan detailnya.
- Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan
diyakini.
- Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus
dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
- Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk
proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Di sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis
menggunakan strategi pebelajaran Kontekstual/Contextual Teaching
Learning.
- Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang tokoh yang sukses dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.
- Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan
cara-cara sukses yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang
dimilikinya.
- Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak
didik berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada
mereka.
- Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi
anak didik untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan keseharian
mereka.
- Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi ilmu
yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan
sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.
- Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.
- Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran
sehingga anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).
Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)
Discovery Learning adalah proses belajar yang di dalamnya tidak
disajikan suatu konsep dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa dituntut
untuk mengorganisasi sendiri cara belajarnya dalam menemukan konsep.
Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be defined
as the learning that takes place when the student is not presented with
subject matter in the final form, but rather is required to organize it
him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Dasar ide Bruner ialah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif
dalam belajar di kelas.
Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning, di mana murid
mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono,
1996:41). Metode Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan
hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu
terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan
beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi,
klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut
disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the
mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert
B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan
pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat
memungkinkan terjadinya generalisasi. Sebagaimana teori Bruner tentang
kategorisasi yang nampak dalam Discovery, bahwa Discovery adalah
pembentukan kategori-kategori, atau lebih sering disebut sistem-sistem
coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding
dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas &
difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian
(events). Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki
lima unsur, dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila
mengetahui semua unsur dari konsep itu, meliputi:
- Nama;
- Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif;
- Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak;
- Rentangan karakteristik;
- Kaidah (Budiningsih, 2005:43).
Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan
mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda
pula. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan
menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa) ke
dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap
siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk
menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu
siswa pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning
Environment, yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi,
penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip
dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa
dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus
berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat
perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk
memfasilitasi kemampuan siswa dalam berpikir (merepresentasikan apa yang
dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga
tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive,
iconic, dan symbolic. Tahap enaktive, seseorang melakukan
aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya,
artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan
motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui
gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia
sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan
perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki
ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya
anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan
sebagainya.